"Masker bisa melindungimu… tetapi juga bisa memenjarakanmu."
Di koridor topeng emas, masker senyum palsu berbisik seperti janji yang pernah diingkari. Di sanalah mereka bertemu Mask Minister mantan penjaga kejujuran yang tersesat di antara ambisinya sendiri. Ia dulu manusia biasa, seorang menteri yang ingin membantu rakyat. Namun kebohongan yang ia kumpulkan untuk “kebaikan” lambat laun memakan wajahnya. Kini ia menjaga ilusi dunia… dan dirinya sendiri.
BAB 13 Mask Minister
Saat Cermin Keabadian menutup rapat di belakang Preet, alam semesta tidak terdiam. Ia bergeser. Shayla, Rosi, Tuan David, dan Raja Burung mendapati diri mereka berdiri di koridor sempit dan remang-remang yang terbuat dari logam berkarat dan tirai beludru tua. Bisikan-bisikan bergema dari segala arah. Bukan bisikan hantu. Melainkan bisikan janji. Janji yang diingkari. Sebatang lentera berkedip, memperlihatkan lorong panjang yang dipenuhi topeng-topeng emas yang mengambang, masing-masing diukir menjadi senyuman yang tak sampai ke mata. Bulu mata Rosi berdiri. “Meong… topengnya bau ambisi basi." Bird King menyipitkan matanya. "Si Broker tidak bekerja sendirian." Tepukan lembut bergema di aula.
Tap. Tap. Tap.
Seorang pria jangkung melangkah maju mengenakan setelan jas yang rapi, berjalan dengan elegan, percaya diri... dan hampa. Wajahnya tersembunyi di balik topeng emas tanpa cacat, retak di sepanjang pipi kirinya.
Shayla tersentak. "Kau... manusia?" Pria itu terkekeh hangat. "Bukan, Nak. Akulah yang akan terjadi pada manusia... ketika mereka berbohong terlalu lama." Dia membungkuk dalam-dalam, hampir dramatis.
"Akulah Menteri Bertopeng." "Mantan Penjaga Janji. Administrator Ilusi saat ini." Sayap Bird King mengepak. "Kau membantu Broker mencuri karma." Mask Minister itu mengetuk tongkatnya pelan. "Mencuri? Tidak. Aku hanya... menyesuaikan angkanya. Orang-orang suka jalan pintas. Aku hanya memberi mereka topeng untuk menyembunyikan biayanya." Dia melambaikan tangannya. Topeng-topeng yang mengambang itu berputar, memperlihatkan kegelapan hampa di belakangnya. Shayla tersentak. "Mengapa ada orang yang menginginkan ini?"
Menteri itu mendekat. “Karena kebenaran itu menyakitkan. Orang-orang menginginkan kenyamanan. Orang-orang menginginkan tepuk tangan. Orang-orang menginginkan versi diri mereka sendiri yang sanggup mereka lihat. Topengnya sendiri berdenyut merah.“Dan seiring waktu… topeng-topeng itu menjadi lebih nyata daripada wajah-wajah di baliknya.” Tuan David menelan ludah. “Dan wajah aslimu…?” Menteri itu membeku. Untuk sesaat, retakan di topengnya melebar. Cahaya redup merembes masuk. “Aku tidak ingat,” bisiknya. Rosi balas berbisik, “Itu… tragis.” Raja Burung melangkah maju. “Koridor ini mengarah ke Cermin Keabadian, bukan?”
Mask Minister itu memutar tongkatnya dengan elegan. “Ah ya. Celah itu hanya terbuka bagi mereka yang telah kehilangan diri mereka sendiri… atau mereka yang siap menghadapi diri mereka sendiri.” Dia mengangkat satu jari. “Tapi sebelum kau mengikuti Preet… kau harus menjawab satu pertanyaan.”Lentera-lentera itu meredup. Suara Menteri itu merendah. "Topeng mana dari kalian... yang rela kau biarkan mati?" Topeng-topeng di dinding mulai meleleh, meneteskan emas seperti air mata. Sebuah pintu cahaya terbentuk di belakang Menteri jalan menuju Preet. Menteri itu minggir dan membungkuk. "Pergilah. Cermin itu lapar. Dan temanmu sudah ada di dalam." Bird King membentangkan sayapnya. "Bergerak. Kita pergi sekarang."Shayla melirik Menteri sekali lagi. "Maukah kau... ikut dengan kami?"Menteri itu menyentuh topengnya yang retak. "...Tidak. Aku harus tinggal di sini. Seseorang harus menjaga topeng-topeng dunia."
Dia tersenyum sedih. "Lagipula... aku lupa seperti apa wajahku. Koridor itu bergetar. Pintu terbuka lebar.
Dan mereka melangkah masuk ke dalam cahaya. Saat cahaya itu menelan mereka, lorong-lorong topeng perlahan memudar seperti bayangan masa lalu yang tidak bisa lagi menyentuh mereka. Suara Menteri Bertopeng lenyap, digantikan oleh denting lembut seperti gema napas pertama alam semesta.
Cahaya di sekitar mereka berubah bukan lagi cahaya portal, melainkan cahaya kesadaran itu sendiri. Dan ketika pijakan akhirnya kembali muncul di bawah kaki mereka, mereka sadar: ini bukan sekadar ruang baru… ini adalah inti dari seluruh Samsaraverse, tempat di mana semua perjalanan berakhir dan semua kebenaran mulai berbicara.
- LANJUTKAN