BAB 12.7 :
THE ORIGIN OF MASK MINISTER
THE ORIGIN OF MASK MINISTER
“Setiap kebohongan meninggalkan retaknya sendiri…”
Di dunia manusia, sebelum ia menjadi penjaga lorong topeng, ia hanyalah seorang menteri biasa. Seorang yang ingin melayani dengan jujur. Seorang yang percaya bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya. Namun kesalahan kecil mulai ia tutupi. Lalu kesalahan lain. Lalu satu kebohongan lagi… dan lagi. Sampai suatu hari, topeng yang ia pakai untuk “melindungi citra” nya mulai menempel pada wajahnya.
Semakin ia menutupinya, semakin topeng itu tumbuh. Semakin ia menyangkalnya, semakin retakannya bersinar emas.
Dan ketika topeng itu menyatu sepenuhnya, ia tidak lagi ingat wajah aslinya. Lorong topeng terbentuk dari setiap kebohongan yang pernah ia buat. Ruang yang dulu ia coba tinggalkan… kini menjadi ruang yang harus ia jaga. Ia bukan penjahat. Ia bukan monster. Ia adalah manusia yang terlalu lama tidak berani melihat dirinya sendiri. Kini ia menjaga koridor itu… hingga ada jiwa lain yang cukup berani untuk masuk dan cukup jujur untuk keluar.
BAB 12.7 :THE ORIGIN OF MASK MINISTER
Setelah retakan kosmik menutup di belakang mereka, dunia tidak langsung hening. Ia mengubah bentuk, menelan cahaya duel dan menggantinya dengan bayang-bayang panjang seperti tirai yang jatuh.
Koridor itu muncul panjang, berkarat, penuh kursi merah lusuh, dan di dindingnya tergantung topeng-topeng emas retak seakan sedang menilai siapa yang pantas lewat. Rosi mendesis pelan. "Meow.. bau niat busuk dan janji yang patah…” Shayla menahan napas. Raja Burung mengangkat sayapnya dan berkata pelan: “Tempat ini… bukan milik Broker.”
Shayla menoleh dan berkata “Siapa yang tinggal di sini? Lalu milik siapa?” Raja Burung berhenti di tengah lorong. Matanya berkilat biru lembut pertanda ia membuka memori lama. Bird King menunduk dan berkata “Seseorang yang terlalu lama memakai wajah yang bukan miliknya. Tempat ini… tidak lahir sendiri. Ada penjaganya. Ada jiwa yang pernah hidup sebagai manusia.“Pemilik lorong ini adalah penjaga lama, Mask Minister”
Lorong bergetar mendengar nama itu. Satu topeng jatuh dan pecah, namun bukannya mati retakannya menyala merah seperti luka lama yang kembali menangis. Shayla menggigit bibir. “Dia… monster?”
Raja Burung menggeleng perlahan. “Tidak. Dia dulu manusia.”
Mereka semua diam. Hanya suara air yang bergelombang di lantai.
Raja Burung menatap jauh ke ujung koridor, seolah melihat masa lalu.
“Di dunia manusia,” kata Raja Burung, “dia adalah seorang menteri muda. Jujur, bersih, penuh idealisme.” Lampu-lampu lorong menyala perlahan klik… klik… klik menyoroti wajah-wajah kosong di dinding.
“Tetapi di dunia politik, setiap dusta kecil yang ia buat… menempel.”
Topeng-topeng emas mulai bergerak, retakan mereka berdenyut seperti nadi. “Awalnya ringan. Topeng itu bisa ia lepaskan.”
“Tapi kebohongan… tumbuh.” “Dan topeng itu mulai menyatu dengan wajahnya.” Tuan David bergidik. “Hingga suatu hari,” bisik Raja Burung, “dia tidak ingat wajah aslinya.” Lampu meredup. Topeng-topeng di dinding menoleh bersamaan diam, menuduh, dan sedih.
Raja Burung menghela napas panjang. “Inilah koridor ciptaannya.
Museum dari semua wajah yang pernah ia tinggalkan. Dan semua wajah yang ia pinjam.” Pintu emas retak perlahan terbuka di ujung lorong. Rosi mendengkur waspada. Shayla menggenggam pita birunya. Raja Burung berkata: “Kita belum bertemu dia sekarang.
Dia menunggu di bab berikutnya.” Mereka melangkah masuk ke cahaya, dan bayangan panjang seorang pria bertopeng tampak sekilas di belakang mereka sebelum menghilang kembali ke kegelapan.
-Continue