“Karma itu matematika. Setiap tindakan menghasilkan angka. Setiap niat menghasilkan variabel.”
Ketika Ledger terbuka, dua kekuatan purba akhirnya bertabrakan, Bird King, penjaga keseimbangan, dan Karma Broker, pedagang takdir yang mengutak-atik nasib ribuan jiwa. Pertarungan cahaya dan angka mengguncang ruang kosmik, memecahkan dimensi hingga sebuah portal terlarang Infinity Mirror terbuka.
Preet, Shayla, Rosi, dan Mr. David terjebak di tengah ledakan energi karmic. Ketika retakan itu menelan Preet, semua aturan lama runtuh.
Kini Bird King, Shayla, dan yang lainnya harus mengikuti Preet ke dalam dunia di mana waktu tidak mengalir lurus… tetapi berputar dalam spiral tak berujung.
BAB 12.6: DUEL KESEIMBANGAN YANG RUSAK
Ruangan Ledger tiba-tiba menjadi terang. Di satu sisi, Bird King, sayapnya mencakar angkasa, membawa suara ribuan jiwa. Di sisi lain: Pialang Karma, jubah merahnya berkibar, angka-angka melilit tubuhnya seperti ular. Keduanya saling menatap. Bird King menatap Broker: “Berhenti sebelum karma menagihmu."Broker," kata Bird King, suaranya menggema seperti gong. "Kau telah melewati batas. Pasar Takdir, Ledger terlarang, barter karma semua itu di luar kodemu."
Broker tertawa dingin "Kode? Aturan? Dunia sedang berubah, Bird King. Sementara kau masih berpegang teguh pada sayap kuno yang tak relevan." Cahaya keemasan di dada Preet berdenyut. Rosi berbisik ke Shayla, "Mereka akan bertarung... dan kita harus berhati-hati. Shayla bertanya “Kenapa mereka bertarung? Kita bisa bicara bukan?”. Perang karma itu... bisa menghancurkan dimensi." Bird King menunjuk Broker. “Kau telah mencuri karma ribuan jiwa.” Broker mengangkat bahu “Aku bukan pencuri. Aku pedagang. Yang bersalah adalah mereka yang menginginkan jalan pintas. Aku hanya… menyediakan jasa. “Dan menghancurkan keseimbangan!”
Broker itu menatapnya.“Keseimbangan hanyalah sebuah konsep, Nak. Yang nyata adalah keputusan hati.” Bird King mengepakkan sayapnya, ruangan itu retak seperti kaca. “Ini peringatan terakhirmu, Broker. Tinggalkan Ledger dan bubarkan pasarmu.” Broker itu mendekat, topengnya menyala merah. “Aku juga punya peringatan untukmu…” Mereka saling menatap. Tiba-tiba suasana hening lalu BOOOOM!! Ledakan cahaya dan angka memenuhi ruangan. Bird King menciptakan pusaran cahaya putih. Broker itu merespons dengan hujan angka berwarna merah darah. Preet, Rosi, Shayla, dan Tuan David terlempar ke tepi ruangan. Preet berteriak, “BERHENTI! KAU AKAN…” Terlambat. Cahaya putih dan merah bertabrakan, menciptakan retakan kosmik seperti cermin, menganga di tengah ruangan. Tuan David memucat. "Itu... itu bukan retakan biasa. Itu portal menuju ruang tak terbatas." Sang pialang melirik retakan itu dan tersenyum puas "Ah... Cermin Keabadian akhirnya terbuka." Bird King menatap Preet. "Ini bukan sekadar pertarungan, Preet.
Ini awal dari sebuah keputusan yang hanya kau yang bisa buat." Sang Pialang menunjuk ke celah kosmik. "Di balik sana, kau akan menemukan kebenaran: Siapa sebenarnya yang membangun sistem karma?" Celah itu melebar, menarik semua cahaya. Shayla berteriak, "PREET!!!" Preet langsung tersedot ke dalam celah di Cermin Keabadian. Kegelapan. Keheningan. Kosmos jungkir balik. Bird King berteriak, "JANGAN SERTAKAN ANAK ITU!" Sang Pialang tertawa. "Aturan lama masih membatasimu, Bird King Aku tidak." Celah itu tertutup. Bird King mengepakkan sayapnya, wajahnya dipenuhi amarah. "Kita harus mengejar Preet. Sekarang." Tuan David meraih bahunya. "Di mana pintunya?" Bird King menunjuk samar-samar ke arah cahaya yang tersisa "Celah itu... akan terbuka lagi.
Setelah celah itu terbuka kembali, cahaya di baliknya tidak lagi berwarna emas pasar melainkan pecahan putih kebiruan seperti kaca retak. Bird King menunduk, memberi izin seakan ledger telah menutup kasus mereka untuk sementara.
Broker berdiri diam di tengah ruangan yang remuk, cahaya merah masih merembes dari retakan topengnya. Bukan kemenangan. Bukan kekalahan.Hanya keputusan. Ia menutup Buku Ledger perlahan gerakan yang terlalu tenang untuk seorang penjahat, terlalu penuh beban untuk seorang pengkhianat. “Waktuku dalam duel ini selesai,” katanya lembut, hampir seperti pengakuan. "Aku tidak mengejar Preet ke dalam cermin itu. Belum.” Raja Burung mendengus. “Karena kau takut?”Broker tertawa kecil.
“Tentu saja bukan. Aku hanya… menunggu nilai naik.”
Topengnya bergeser, retakan membentuk garis seperti senyum sedih.
Ia menatap mereka satu per satu. Preet yang hilang ke dalam cermin.
Shayla yang ketakutan. Rosi yang waspada. David yang gemetar.
“Ledger telah memilih pewaris baru. Dan ketika seseorang dipilih…
pasar harus menyesuaikan diri.” Angin merah berputar di sekeliling tubuhnya.“Kita akan bertemu lagi. Bukan sebagai musuh…
tapi sebagai pihak yang menegosiasikan takdir.”
Dengan satu ketukan buku di tongkatnya, tubuhnya memudar menjadi serpihan angka, menghilang ke celah dimensi yang ia panggil sendiri.
Sebelum benar-benar lenyap, ia meninggalkan satu kalimat menggantung di udara “Dalam perang yang akan datang… nilai kebenaran jauh lebih mahal daripada karma.”lalu sunyi.
Dari sela retakan itu, muncul denyut glitch yang memanggil nama Preet dalam frekuensi yang bahkan ia sendiri belum pernah kenal. Udara meliuk, lantai hilang rasa, dan satu per satu mereka terseret masuk ke ruang di mana waktu tidak mengalir lurus… hanya berputar menunggu pertarungan yang berikutnya.
- CONTINUE